Wednesday, September 12, 2012

Pertumbuhan Ekonomi Bukanlah Jaminan Kesejahteraan


Terjadinya keterbelakangan ekonomi merupakan latar belakang lahirnya pembangunan di Negara-negara berkembang, di mana aspek yang lebih ditekankan adalah aspek pembangunan ekonomi. Dengan adanya pembangunan di bidang ekonomi dapat mendorong perubahan-perubahan atau mendukung pencapaian atau pembaharuan pada bidang kehidupan lainnya.
Untuk beberapa orang mungkin akan menyamakan atau sulit membedakan antara pertumbuhan ekonomi dengan pembangunan ekonomi namun pada hakikatnya terdapat perbedaan di antara keduanya. Menurut Prof. Boediono, teori pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai penjelasan mengenai factor-faktor apa yang menentukan kenaikan output perkapita dalam jangka panjang, dan penjelasan mengenai bagaimana factor-faktor tersebut menyebabkan terjadinya proses pertumbuhan. Analisis yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi semata dianggap kurang sempurna. Hal ini disebabkan apabila terjadi peningkatan output dan pendapatan belum tentu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Berbeda dengan pertumbuhan ekonomi, pembangunan ekonomi memiliki kandungan arti yang lebih luas yang mencakup perubahan pada susunan ekonomi masyarakat secara menyeluruh, seperti yang diungkapkan oleh Jhingan (1992) bahwa tujuan pokok pembangunan ekonomi ialah untuk membangun peralatan modal dalam skala yang cukup untuk meningkatkan produktivitas di bidang pertanian, pertambangan, perkebunan dan industri. Modal juga diperlukan untuk mendirikan sekolah, rumah sakit, jalan raya, jalan kereta api, dan sebagainya. Singkatnya, hakikat pembangunan ekonomi adalah penciptaan.
Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi hanya mencatat tentang peningkatan produksi barang dan jasa secara nasional sedangkan pembangunan berdimensi lebih luas dari sekadar peningkatan pertumbuhan ekonomi. Sulit bagi kita mengatakan terjadi pembangunan apabila masih banyak kemiskinan, tingginya angka pengangguran, dan ketimpangan masih saja substansial.
Secara tradisional mengukur pembangunan hanya dengan menekankan pada peningkatan Gross Domestic Product atau Produk Domestik Bruto suatu Negara secara terus menerus dan pertumbuhan ekonomi akan menghilangkan kenyataan adanya ketimpangan di masyarakat dalam menikmati hasil pembangunan. Hal ini disebabkan produk domestic bruto hanya melihat pendapatan secara rata-rata dan pertumbuhan ekonomi tidak melihat manfaat pembangunan pada manusia.
Demikian yang dinyatakan oleh Eric Maskin, penerima penghargaan Nobel Ekonomi tahun 2007, dan Kaushik Basu, Guru Besar Ekonomi Universitas Cornell, Amerika Serikat dalam koran Kompas pada tanggal 5 September 2012.
Dari pernyataan tersebut dapat ditarik dianalisa bahwa peningkatan PDB dan pertumbuhan ekonomi semata tidaklah cukup untuk mewujudkan pembangunan ekonomi, diperlukan strategi yang dirasa lebih “tepat” sasaran. Salah satu indicator yang populer untuk mengukur kinerja pembangunan manusia adalah dengan menggunakan HDI (Human Development Index) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). HDI merupakan program Pembangunan PBB (UNDP) yang mengukur angka harapan hidup, partisipasi sekolah dan indeks PDB berdasarkan PPP.
Dengan berfokus pada ketiga hal tersebut akan meningkatkan pembangunan ekonomi yang terjadi di Negara-negara dunia ketiga.
Atau kita dapat menggunakan pendekatan Amartya Sen, seorang pemenang Hadiah Nobel untuk bidang ekonomi tahun 1998, sebagaimana yang dikemukakannya bahwa “Pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai tujuan akhir. Pembangunan haruslah lebih memperhatikan peningkatan kualitas kehidupan yang kita jalani dan kebebasan yang kita nikmati.
Kebebasan memilih, atau control yang dimiliki seseorang terhadap hidupnya sendiri, adalah aspek utama dalam memahami kesejahteraan secara mendalam.
Jika berbicara masalah ketimpangan kesejahteraan, globalisasi merupakan salah satu hal yang menarik untuk dibahas. Seperti yang dikemukakan oleh Maskin dan Basu bahwa globalisasi adalah salah satu penyebab ketimpangan kesejahteraan, terutama di Negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ada baiknya apabila kita memulai dengan mengupas terlebih dahulu apakah globalisasi itu? Secara sederhana kita dapat mengartikan bahwa globalisasi adalah sebuah bentuk integrasi perekonomian suatu Negara ke dalam perekonomian dunia (global). Di mana proses integrasi perekonomian global itu sendiri, antara lain dicerminkan oleh adanya liberalisasi perdagangan dan investasi (ekonomi).
Pertanyaan selanjutnya yang sangat menarik untuk dibahas adalah apakah Indonesia layak masuk ke dalam liberalisasi perdagangan dan investasi di era globalisasi? Jawabannya bisa saja “ya” atau “tidak” tergantung bagaimana pihak penyelenggara ekonomi dan Negara menata posisi ekonomi Indonesia dalam era globalisasi tersebut.
Jika kita menganggap bahwa liberalisasi sebagai suatu peluang, kemudian ekonomi Indonesia ditata untuk meraih peluang tersebut, maka liberalisasi ini akan bermanfaat bagi percepatan pengembangan ekonomi nasional. Modal manusia, di mana pendidikan dan kesehatan adalah kunci utamanya. Meningkatnya kualitas SDM, akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa bersaing dengan pekerja asing di pasar kerja global. Dengan keahlian dan keterampilan yang dimilikinya pula mereka dapat meningkatkan kualitas barang sehingga produk-produk yang dihasilkan siap untuk berkompetisi dalam pasar global. Sehingga akan banyak orang yang dapat menerima manfaat secara adil dari adanya globalisasi.
Serupa dengan pendidikan, kesehatan adalah salah satu kunci penting. Mereka yang mudah atau rentan terkena penyakit akan sulit untuk bersaing di pasar global. Para pemilik modal akan “malas” untuk mempekerjakan karyawannya yang sering tidak bekerja dengan alasan sakit. Akses terhadap kesehatan juga dirasakan sebagai factor penting untuk dapat meerasakan manfaat dari globalisasi.
Lantas, bagaimana jika liberalisasi perdagangan dan investasi dipandang hanya sebagai arena pertarungan/persaingan saja? Jika hal tersebut yang terjadi dan pada tahap berikutnya ekonomi Indonesia hanya dikondisikan untuk menghadapinya maka globalisasi akan menjadi hal yang menakutkan bagi Indonesia.
Globalisasi ibarat pedang bermata dua, di satu sisi bisa membawa manfaat, membuka peluang dan cakrawala baru bagi mereka yang siap “menerimanya” dan dapat membawa “mimpi buruk” untuk mereka yang terlena dan terbuai olehnya.
Mau-tidak mau, suka atau  tidak Indonesia sudah menjadi bagian darinya. Mengutip kata-kata pak Boed, “ Globalisasi adalah suatu kenyataan sejarah yang terus akan bersama kita. Menutup diri atau melawan arus globalisasi bukanlah pilihan yang bijak. Kita melibatkan diri di dalamnya secara cerdas. Tujuan utama kita adalah memperoleh manfaat sebesar-besarnya dan sejauh mungkin menghindari risiko negatifnya. Kuncinya adalah meningkatkan kemampuan kita secepatnya agar bisa menjadi pemain yang andal dalam globalisasi.”

No comments:

Post a Comment